Jumat, 01 Mei 2009

Bukan Hal yang Rumit, Tetapi Sesuatu yang Terus Dicari

Saat melihat anak-anak, rasanya semua ada di sana. Semuanya.

Seorang anak laki-laki, kira-kira usianya tujuh tahun, terus mengoceh, dan menggerak-gerakkan tangannya ke atas-ke bawah, seakan memegang sesuatu naik dan turun. Sepanjang jalan, sejak keluar dari gerbang sekolah hingga masuk ke halaman rumah, walaupun ia sendirian, rasanya itu pun sudah cukup. Cukup memuaskan khayalannya, imajinasinya, perasaan dan pikirannya.

Ada lagi seorang gadis kecil, yang meniru gerak-gerik kakak perempuannya. Cara duduk, berjalan, kebiasaan makan sambil membaca buku bahkan sampai masalah gaya rambut.

Sebenarnya, dulu kita juga pernah mengalaminya. Bahkan mungkin dengan tingkah laku yang lebih ‘ajaib’.




Kebahagiaan yang didefinisikan sebagai keberuntungan, kesenangan, dan ketentraman dalam kehidupan tidak serumit yang dibayangkan. Saat seorang anak berkhayal, atau sekedar meniru tingkah laku ayah, ibu, atau kakaknya, ia sudah mendapatkan kebahagiaan.

Dan sebenarnya, setelah dewasa pun, kebahagiaan itu tidak pernah berubah sifatnya. Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana apakah?
Semakin rumit permasalahan yang Anda lihat, bentuk bahagia terasa semakin sederhana. Namun bukan berarti sederhana, lalu memperolehnya adalah hal yang mudah.

Kembali

Maaf kepada seluruh pengunjung blog ini, karena mungkin selama sekian bulan tidak ada post baru. Ini karena kesibukan penulis dalam menjalankan kegiatan studinya sehingga aktivitas blogging sedikit tertunda.
Walaupun mungkin saat ini belum kembali sepenuhnya, tetapi penulis (karena keinginan menulisnya yang besar) sudah mulai menulis artikel.
Selamat datang dan selamat membaca. ^_^