Senin, 05 Oktober 2009

Jejak Kelam

Dahulu, pokok-pokok kayu menaungi terik mentari. Disini. Kini tebang pohon berserakan. Aku berjalan menembus malam. Menghitung langkah-langkah kaki menjejak lemah. Dingin menyusup, tengkuk yang kaku. Pundak rapuh memanggul berjuta angan dan benak. Rembulan tersenyum tipis. Kecut. Bintang berkedip beradu, berlomba sepanjang malam. Batu-batu rebahan di atas aspal. Nyeri. Kerikil menggelitik kakiku. Kapankah malam ini berakhir? Sanggupkah aku kembali pulang?

    Sementara mereka masih ada. Masih bercokol di sana. Tak mungkin juga mengharapkannya enyah. Atau jikapun benar, pastilah suatu mukzizat. Pantaskah ia datang untuk seorang hina? Seorang yang kini hilang tujuan. Seorang bodoh yang tak sanggup bahkan untuk melihat sebuah aral.

    Helaan napas berat. Basah. Lambat. Aku mengejanya satu demi satu. Sanggupkah aku kembali pulang? Dengan raut pucat pasi. Dengan hanya kulit dan tulang? Tuhan, aku bersyukur tak Kau penjarakan aku dalam kemiskinan. Aku tahu, aku hanya sebuah benda kecil. Aku tak ingin dan tak mampu mempersalahkan takdir.

    Kendaraan bising. Gesek ban dan jalan kian lantang. Klakson menjerit di sana-sini. Sirine ambulans meraung-raung. Bergegas melesat. Egois. Aku tahu kau. Kau yang membawa manusia-manusia ke tempat itu. Kau bahkan pernah menggiringku masuk ke ruangan penuh tabung. Formalin menusuk hidung. Sebuah jarum ditancapkan di sisi telapakku. Di sana, tangis menjadi melodi abadi. Berdengung sepanjang koridor-koridor. Di atas ranjang-ranjang.

    Bukan aku takut. Bukan aku takut mendengar ocehan pria berjas putih. Mengatakan kepalsuan. Bukan aku takut dijejali celoteh wanita berhak tinggi. Bermulut manis dan mencoba memancing harapan hidup di sorot-sorot mata. Apa yang mampu mereka lakukan? Tidakkah hanya mendendangkan nyanyian surga? Sementara algojo di pelupuk mata?

    Sanggupkah aku kembali pulang? Setelah berpayah-payah mencabut selang itu dari hidung dan mulutku? Sementara di tempat kecilku dulu selalu ada mereka menanti. Matahari terbit nanti, mungkin seorang lelaki tua akan sibuk. Kerut dan peluh di wajah. Dan seorang wanita paruh baya menggigit jarinya. Perasaan yang membuncah di dada. Bisakah aku merasakannya juga?

    Bukan nanti. Bukan juga saat ini. Tahukah aku sudah menyimpannya? Sekian musim. Tanpa tujuan. Bukan tanpa alasan. Tuhan, Kau tak sisakan satu alasan untukku pergi. Tapi aku tahu Kau paham. Entah ini wahamku ataukah realita tengah menari-nari mempermainkanku. Ada berjuta alasan. Mereka mungkin tak akan membiarkanku damai. Tenang.

    Sanggupkah aku kembali pulang?

    Ah, tidak. Biarkan aku menghabiskan malam ini bersama kelam langit. Bahkan jika ia tak mengizinkanku untuk melihat gurat mentari esok. Setidaknya aku ada di dunia. Tempat dimana seorang anak kecil berlarian. Tempat masih ada orang-orang. Merangkak menggapai cita. Mungkin saja malaikat maut bisa tersenyum di sini...

Purwokerto

Tuesday, October 06, 2009


 

Sabtu, 19 September 2009

Euforia Hari Fitri


Menjelang hari raya Idul Fitri, pusat perbelanjaan terlihat ramai. Mengapa? Anda mesti tahu bahwa lebaran identik dengan pakaian baru. Bahkan sebuah lagu mengiyakannya. "Baju baru, Alhamdulillah. 'Tuk dipakai di hari raya"

Memang betul, kalau Anda mengatakan itu lagu anak-anak. Tapi ternyata fenomena 'baju baru' bukan hanya milik anak-anak. Ibu-ibu, mengantri di depan pintu kamar pas swalayan yang bertuliskan "Maksimal dua potong". Saat ditanya mengapa memanfaatkan even lebaran untuk membeli pakaian, menjawab "Kalau bukan lebaran, kapan lagi?"

Beberapa, melihat antrian yang begitu panjang memutuskan mencoba pakaian di tempat. Merangkap pakaian yang dipakai dengan 'calon' baju baru. Tapi tunggu dulu, ternyata bukan baju saja yang 'perlu' baru. Alas kaki untuk silaturahmi juga banyak dicari. Anak-anak, girang mencoba sandal-sepatu, mencocokkan sepatu di display toko dengan ukuran kakinya. Tak kalah ramai, di bagian penjualan bahan makanan dan perabot rumah tangga para ibu dan remaja putri terlihat memilah-milih kue dan camilan. Bukan hanya itu, bahan makanan untuk memasak juga diborong. Perangkat baru dibeli demi rumah terlihat cantik di hari raya.

Suasana lebaran makin terasa ketika sanak saudara berkumpul. Beramai-ramai dating dari perantauan ke kampong halaman. Menyisakan cerita-cerita yang tak habis bila ditumpahkan. Hingga hari raya tiba.

Lalu? Apa yang kita harapkan dari perayaan Idul Fitri? Hari yang dinantikan bahkan sejak awal Ramadhan datang, dengan persiapan perayaan paling 'wah' di dunia? Kita tahu tak ada suasana Idul Fitri semeriah di Indonesia. Hingga seluruh stasiun televisi pun berlomba-lomba mengabarkan perkembangan info lebaran. Dari mudik sampai pernak-pernik.

"Sehabis shalat Ied, makan opor dan silaturahmi, badan saya rasanya lungkrah. Rasanya ingin tidur." Delapan puluh persen responden menyatakan demikian. Tak apa jika hal itu terjadi. Dengan catatan, kita mendapatkan poin esensi dari bulan Ramadhan. Dan hikmah kemenangan Idul Fitri. Hati menjadi suci, saling memaafkan, dan ikhlas. Tak lupa saling berbagi. Apalah artinya sebulan menahan lapar dan dahaga, jika hati tak tergerak menjadimuslim yang lebih baik? Semoga puasa yang kita jalani diterima oleh Allah, dan menuntun kita menjadi orang yang bertaqwa.

Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan, bulan yang semoga masih bias kita jumpai tahun depan. Selamat Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Jumat, 01 Mei 2009

Bukan Hal yang Rumit, Tetapi Sesuatu yang Terus Dicari

Saat melihat anak-anak, rasanya semua ada di sana. Semuanya.

Seorang anak laki-laki, kira-kira usianya tujuh tahun, terus mengoceh, dan menggerak-gerakkan tangannya ke atas-ke bawah, seakan memegang sesuatu naik dan turun. Sepanjang jalan, sejak keluar dari gerbang sekolah hingga masuk ke halaman rumah, walaupun ia sendirian, rasanya itu pun sudah cukup. Cukup memuaskan khayalannya, imajinasinya, perasaan dan pikirannya.

Ada lagi seorang gadis kecil, yang meniru gerak-gerik kakak perempuannya. Cara duduk, berjalan, kebiasaan makan sambil membaca buku bahkan sampai masalah gaya rambut.

Sebenarnya, dulu kita juga pernah mengalaminya. Bahkan mungkin dengan tingkah laku yang lebih ‘ajaib’.




Kebahagiaan yang didefinisikan sebagai keberuntungan, kesenangan, dan ketentraman dalam kehidupan tidak serumit yang dibayangkan. Saat seorang anak berkhayal, atau sekedar meniru tingkah laku ayah, ibu, atau kakaknya, ia sudah mendapatkan kebahagiaan.

Dan sebenarnya, setelah dewasa pun, kebahagiaan itu tidak pernah berubah sifatnya. Kebahagiaan itu sederhana. Sesederhana apakah?
Semakin rumit permasalahan yang Anda lihat, bentuk bahagia terasa semakin sederhana. Namun bukan berarti sederhana, lalu memperolehnya adalah hal yang mudah.

Kembali

Maaf kepada seluruh pengunjung blog ini, karena mungkin selama sekian bulan tidak ada post baru. Ini karena kesibukan penulis dalam menjalankan kegiatan studinya sehingga aktivitas blogging sedikit tertunda.
Walaupun mungkin saat ini belum kembali sepenuhnya, tetapi penulis (karena keinginan menulisnya yang besar) sudah mulai menulis artikel.
Selamat datang dan selamat membaca. ^_^

Sabtu, 07 Februari 2009

Mata Kita, Masa Depan Kita

Saat masih bayi, apakah yang membuat kita bisa membedakan ibu dengan orang asing? Apakah yang membuat kita tahu langit itu biru dan warna daun adalah hijau? Lalu, apakah yang ikut menghanyutkan kita dalam suasana suka, duka, dan haru saat membaca berita di koran?

Mata. Ya, karena mata. Disadari atau tidak, baik langsung maupun tidak langsung, hendaknya mata yang telah dianugerahkan kepada kita dijaga dengan baik. Beruntunglah kita yang mempunyai lengkap sepasang mata. Walaupun terkadang masih terdengar suara “Mataku kurang lebar” atau “Mataku terlalu lebar”—atau yang semacamnya, bersyukurlah dengan mata-mata itu. Karena jauh lebih beruntung dari mereka yang tidak sempurna anggota tubuhnya.

Melihat, fungsi mata yang paling esensial
Semua orang tahu bahwa fungsi mata adalah melihat. Kata ‘melihat’ ini memang sangat singkat. Tapi maknanya sungguh besar. Secara definisi, melihat adalah proses masuknya cahaya melalui kornea, diteruskan ke lensa mata, lalu cahaya difokuskan pada retina atau selaput jala di bagian belakang mata.



Rasanya berat menjadi sebuah mata. Bayangkan saja. Proses yang begitu panjang yang dinyatakan dalam baris-baris kata bisa berlangsung sangat cepat, tak bisa dihitung berapa lama waktu proses tersebut berlangsung. Selain itu, bagian pada mata tidak bergantung satu sama lain, melainkan bekerja sama sebagai satu perkakas.

Tentunya kita tahu, dengan melihat bisa mengerjakan banyak hal. Pertama, meraih prestasi. Saat memasuki usia sekolah, kita diajari berbagai macam hal di sekolah. Apa yang kita lihat sangat menentukan apa saja yang didapat. Karena angka-angka yang diperoleh anak bergantung pada penglihatannya. Mereka menerima sebagian besar pelajaran dari mata. Jika nilai anak di sekolah menurun, bisa jadi penyebabnya adalah kelainan pada mata.

Hal di atas memang bukan sekedar isapan jempol. Karena saya sendiri juga pernah mengalaminya. Ketika duduk di bangku kelas 4 SD, nilai-nilai ulangan yang biasanya cemerlang menghilang. Setelah mengatakan pada orang tua kalau saya tidak bisa melihat papan tulis dengan baik, mereka segera membawa saya ke dokter mata. Dan hasilnya benar-benar mengejutkan! Mata saya minus 1,5!

Sekalinya memeriksakan diri ke dokter, jumlah minusnya ternyata cukup banyak. Memang angka 1,5 untuk minus bukan angka yang terlalu besar. Tapi bagi anak yang tidak pernah memeriksakan matanya ke dokter, itu mengherankan. Sampai pada saat itu dokter juga mengatakan bahwa mungkin di masa mendatang akan ditemukan teknologi mutakhir dan bisa menolong saya. Setelah memakai kacamata, saya kembali bisa kembali seperti dulu. Dan selanjutnya maju untuk meraih prestasi.

Contoh lainnya ada di dunia kerja. Misalnya saja profesi pilot. Seorang pilot dituntut untuk mempunyai penglihatan yang tajam. Kenal arah dan memiliki perhitungan yang tepat. Dua hal terakhir yang disebutkan ( kenal arah dan memperhitungkan dengan tepat ) memang dua hal dasar yang harus dimiliki pilot. Tapi faktor manusia itu sendiri tidak boleh dilupakan. Keahlian tanpa tubuh sehat, bisa menjadi pincang.

Kita ambil satu contoh kecil dari tugas pilot. Yaitu mendaratkan pesawat. Agar dapat landing dengan baik, yang pasti kita harus melihat landasan dulu. Meskipu lampu-lampu di tepi landasan menyala jika ada pesawat akan mendarat, tapi mata rabu tak cukup jelas melihatnya. Dan sangat berbahaya jika pesawat tidak mendarat di landasan atau mendarat di waktu yang tidak tepat.

Yang kedua, mata berperan besar dalam menghasilkan karya. Baik itu karya seni maupun karya-karya lain. Untuk seni, khususnya seni rupa, membutuhkan keahlian khusus. Yaitu mempunyai daya imajinasi yang luas dan jeli dalam melihat potensi yang tersimpan dalam media-media yang akan digunakan. Termasuk bagaimana cara menghasilkan barang bernilai seni tinggi dari barang yang biasa saja. Bahkan kadang medianya adalah barang bekas.

Sampai ada sebuah pepatah yang mengatakan “Melihatlah dengan mata seorang pelukis, yang bisa melihat warna-warni dunia, janganlah melihat dengan mata seorang pencemooh, yang hanya bisa melihat keburukan” Dengan hal ini juga bisa dipahami, bahwa dengan melihat bisa menjadikan kita lebih bijak.

Melihat dunia dengan mata pelukis seperti dunia warna. Tak ada putih yang benar-benar bersih, tak ada hitam yang benar-benar legam. Segala sesuatunya tak ada yang sempurna. Dan kemudian kita sadar, bahwa pada dasarnya semua orang itu baik. Yang membuatnya berubah adalah lingkungan.

Mata, jendela hati
Selain berguna bagi kehidupan, mata juga memberi pancaran tersendiri untuk wajah. Dari sana kita bisa dapat mengetahui orang senang atau susah. Karena mata bisa berbicara lebih dari mulut.

Sebuah penelitian pernah mengatakan bahwa kita bisa mengetahui apakah lawan bicara tertarik dengan topik pembicaraan kita. Caranya dengan melihat pupil mata. Jika pupilnya membesar, berarti ia tertarik. Memang cara ini tidak mudah, sebab pupil mata juga bisa membesar saat cahaya gelap. Karenanya faktor cahaya juga harus dipertimbangkan dalam melihat pupil.

Mata yang bersih dan terawat pasti menarik untuk dilihat. Ditambah lagi, bagian tubuh yang paling sering dilihat orang adalah mata. Ketika berbicara dengan orang lain, pasti anggota tubuh itu yang ditatap. Tak heran kalau banyak orang berlomba-lomba untuk mempercantik mata.

Contohnya saja lipatan di bawah mata. Ada orang yang melakukan operasi untuk mendapatkannya. Terutama orang-orang dari bangsa Asia Timur. Hadiah ulang tahun dari anak pada orang tuanya bukan lagi seikat bunga atau kartu ucapan, tapi uang untuk operasi plastik! Di samping itu mereka juga menyukai orang bermata lebar. Buktinya?

Lihat saja animasinya. Komik-komik dan kartun di televisi. Mata dari tokoh kartun atau komik memakan ruang sampai setengah gambar wajah! Namun sekarang, tren ‘mata besar’ itu mulai menjalar juga ke kartun Barat. Sekarang, hal itu bukan dipandang sebagai harapan mempunyai mata besar, tetapi menjadi sebuah seni. Lihatlah bagaimana mata bisa melahirkan sebuah seni!

Ada satu lagi bagian kecil tetapi sangat diperhatikan para wanita. Yaitu bulu mata. Pernah suatu saat teman saya meminta seorang teman segera datang ke rumahnya. Sudah jauh-jauh datang dengan terburu-buru, ternyata ia hanya ingin menunjukkan hasil keriting bulu mata! Mungkin sempat terpikir “Untuk apa bagian kecil itu diperhatikan? Toh tak akan ada yang sedetil itu memperhatikan?”

Memang begitu adanya. Tapi merawat mata adalah suatu hal yang menyenangkan. Selain membuat mata sehat, juga dapat mempercantik penampilan. Mata yang bening dan bersinar, siapa yang tidak senang melihatnya? Lagipula, sampai saat ini ada beberapa orang yang meyakini kalau mata adalah kesan pertama. Jika orang yang ada di depan Anda benar-benar baik, maka akan tergambar keramahan di matanya. Bagaimana dengan Anda?

Mata sebagai identitas
Selama ini kita tahu bahwa masing-masing etnis mempunyai ciri. Tak terkecuali mata. Mata orang Indonesia secara umum bulat, ada lipatan di bawah mata, dan irisnya berwarna hitam. Mata orang Timur Tengah rata-rata bulat dan lebar. Sebaliknya, mata orang Asia Timur sipit dan berwarna agak coklat. Sementara itu mata Barat irisnya berwarna biru, sampai abu-abu.

Mata itu sungguh hebat! Dengan melihatnya saja kita sudah bisa memperkirakan darimana asal seseorang ( kita diciptakan berbeda memang untuk saling mengenal! ). Itu karena mata kita berbeda. Bahkan dalam satu ras pun, tak ada mata yang persis sama. Sama halnya seperti sidik jari, setiap bentuk dan lengkungannya tak ada yang sama.

Di samping hal tadi, mata sebagai identitas sering kita lihat dalam film-film detektif. Biasanya ada ruang rahasia—dan semacamnya yang hanya bisa dibuka oleh si pemilik. Dan untuk mengamankan, dipasang pemindai sidik jari dan pemindai mata. Sepertinya kalau begini ( karena mata kita berbeda dengan orang lain ), tak ada yang bisa memalsukan identitas. Sungguh kombinasi yang hebat antara manusia dan teknologi!

Penyakit mata
Selama ini kita memang familiar dengan sejumlah penyakit mata seperti miopi, presbiopi, hipermetropi, dan astigmatisma. Penyakit ini bisa dibilang penyakit segala usia. Karena bisa diderita oleh anak-anak usia sekolah ( terutama miopi ), sampai lansia ( mata tua ).

Kelainan mata di atas lebih disebabkan karena kesalahan dalam merawat mata dan keteledoran. Dari cara merawat yang tidak benar, bisa berakibat buruk. Beberapa teman saya pernah mengaku berminus 6, ada juga yang minus 7. Penyebabnya karena waktu kecil sering membaca di tempat yang gelap, dan sering menonton televisi dengan jarak yang terlalu dekat.

Hal tersebut memang diyakini sebagai penyebab kelainan mata miopi ( disamping faktor keturunan ). Rabun jauh yang kebanyakan diderita anak dan remaja usia sekolah ini membuat mereka harus ditolong dengan kacamata atau yang sekarang sudah mulai mendunia—lensa kontak. Mereka harus memakainya karena bayangan benda yang dilihat jatuh di depan retina. Agar jatuh tepat di retina, diperlukan lensa cekung untuk membantunya.


Rawat mata
Kadang kita tak memperhatikan bagian kecil ini. Di mulai saat pagi hari, mata ini sudah dikucek-kucek oleh tangan kotor. Saat bekerja terus-terusan menatap layar monitor. Pulang kembali ke rumah, membaca buku, cahaya yang digunakan tak cukup terang. Atau bahkan membaca sambil berbaring karena sudah lelah. Selanjutnya terus begadang sampai larut malam. Kalau begini, akan muncul lingkaran hitam di sekitar mata. Bukan hanya itu, bisa saja kelainan mata lain ikut datang. Sampai saat ini, telah banyak dilakukan penelitian penyebab rusaknya mata. Memang tak ada yang memastikan, tapi hal di atas diyakini sebagai sumbernya.

Semua tahu, seiring dengan berkembangnya teknologi, makin banyak manfaat yang kita dapatkan. Namun, segala sesuatu pasti mempunyai kekurangan. Munculnya berbagai macam perangkat untuk memudahkan kita bekerja seperti komputer, ternyata juga membawa akibat buruk.

Orang menjadi gemar menggunakan komputer, membuatnya lama duduk di depan layar monitor. Dan mata menjadi lelah. Tak jarang orang mengalami penambahan minus, plus atau silindris mata setelah lama bertahan dengan kebiasaan itu. Mungkin hal ini terdengar biasa, tapi jangan salah… Saat penambahan minus mencapai batas maksimal, retina mata bisa robek dan mengakibatkan kebutaan.

Kondisi kita saat ini selalu dipenuhi oleh teknologi canggih, yang telah memudahkan dalam berbagai pekerjaan dan sebagai sarana belajar. Memang itu semua baik, tapi apakah artinya perangkat itu tanpa mata? Apakah yang akan mengendalikan mereka? Jika tak ada mata, maka hal itu hanya sebatas harapan, tak mampu diwujudkan. Teknologi bisa digunakan karena ada manusia. Secanggih apapun alat, tak ada yang lebih hebat dari manusia. Dan untuk mengendalikannya ( juga membuat! ) dibutuhkan manusia.

Dalam hal ini, bukan berarti sama sekali tidak menggunakan teknologi. Tapi caranya adalah bagaimana kita mengatur diri, dan pandai-pandai menjaga kesehatan. Caranya? Diantaranya jangan membaca di tempat yang terlalu terang dan terlalu gelap, atau sambil berbaring. Jangan biarkan mata terlalu lelah. Banyak makan makanan yang bergizi, juga baik untuk kesehatan mata. Melaksanakannya mudah, hanya tinggal kita yang berusaha.

Karenanya, rawatlah mata mulai sekarang. Mungkin tak bisa dengan segera berubah dan benar-benar merawat mata dengan telaten. Tapi, “perjalanan seribu mil diawali satu langkah”. Ada niat yang tumbuh saja sudah baik. Tinggal bagaimana kita memupuknya. Dan pasti, setelah mengetahui bahwa fungsi mata bukan hanya sekedar ‘melihat’, akan timbul niat yang lebih besar untuk merawat mata.

Sabtu, 10 Januari 2009

Kalender 2009

Tahun 2009 memang telah lewat dua minggu, tapi kali ini penulis hanya membagi hasil coretan sederhananya saja.
Kalender 2009 ^^





Kalau ingin dipakai silakan. Hanya saja edit properly ya.. ^^

Rabu, 24 Desember 2008

Hidup Sehat dengan Makanan Berserat

Pergeseran zaman, sedikit-banyak telah mengubah aspek-aspek kehidupan kita. Mulai dari sosial, budaya, ekonomi, hingga gaya hidup. Untuk yang terakhir tadi mugkin paling sering kita rasakan. Masalah kesehatan dan apa yang kita makan adalah salah satu contoh gaya hidup yang perlu diperhatikan.

Tak bisa dipungkiri bahwa kesibukan di kampus, atau rutinitas pekerjaan membuat kita sering mengabaikan keadaan tubuh. Bahkan kalau dihitung-hitung, banyak sekali kebiasaan sehari-hari yang bisa membahayakan tubuh. Contohnya? Mengetik berjam-jam di depan komputer, atau bagi para wanita, memakai sepatu hak tinggi selama bekerja.
Karena itu, kita sebagai masyarakat modern harus bisa profesional dalam bekerja sekaligus mejaga kesehatan dengan baik. Mulailah dari hal yang sederhana, mulailah dari meja makan Anda. Setiap kali makan, usahakan ada buah atau sayur dalam menu.

Sayur dan buah, mereka sering terlupakan (padahal sangat penting). Saat Anda terjebak padatnya kegiatan, Anda mungkin akan memesan makanan fastfood, dan kecil kemungkinan ada sayur disana—kalaupun ada, jumlahnya tak mencukupi kebutuhan serat dalam tubuh.

Seberapa Pentingkah Serat?
Mungkin Anda masih bertanya-tanya, “Apakah serat itu benar-benar penting?” atau “Kalau makanan hewani lebih lezat, mengapa harus makan banyak serat?”
Memang, pada daging seperti daging sapi dan ayam terdapat serat, tetapi yang dimaksud dengan serat makanan oleh para ahli adalah bagian dari karbohidrat kompleks yang hanya terdapat pada dinding sel tanaman, di dalam sel tanaman, atau di antara sel tanaman. Serat ini tidak dapat dicerna oleh enzim saluran cerna manusia. Jadi, yang dimaksud sumber serat adalah bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Untuk peranan serat dalam tubuh, ternyata pengaruh serat yang masuk membawa banyak manfaat bagi kita. Ambil saja contoh sayur. Di mulut sayur dikunyah oleh gigi dan dibantu oleh lidah dan air liur. Selanjutnya sayur yang masuk ke kerongkongan sudah dalam potongan kecil singgah agak lama di lambung sehingga bisa menunda lapar. Selama berada dalam lambung, kuman yang tidak sengaja masuk ke saluran pencernaan mati karena asam lambung.



Kemudian makanan masuk ke usus kecil dalam bentuk semicair. Di sini ukuran serat menjadi lebih kecil lalu vitamin dan mineral yang terkandung diserap tubuh. Setelah usus kecil, makanan masuk ke usus besar. Di usus besar, cairan yang terkandung dalam massa diserap, serat membantu gerak peristaltik otot usus sehingga feses cepat keluar.

Menghitung Manfaat Serat
Serat bukan hanya memperlancar pencernaan, tetapi masih banyak lagi manfaat tersembunyi di dalamnya. Diantaranya adalah :

- Mencegah bau mulut (halitosis).
Megapa? Logikanya begini: makanan berserat harus banyak dikunyah lebih lama. Saat dikunyah itulah mulut dibersihkan dari aroma yang tidak sedap. Maka jika Anda memilih buah untuk pencuci mulut, itu tindakan yang tepat!

- Mencegah dan mengatasi diabetes mellitus.
Selain mengurangi asupan lemak, serat juga memperlambat penyerapan glukosa (gula darah) di saluran pencernaan, sehingga kadar gula darah tidak meningkat secara tiba-tiba. Dengan demikian kestabilan gula darah penderita diabetes bisa terjaga.

- Membantu mencegah kanker.
Serat mampu melarutkan, mengikat, dan mempercepat perjalanan zat-zat penyebab kanker saat melalui usus besar. Di samping itu, serat juga menyebabkan terjadinya reaksi fermentasi pada zat-zat makanan yang tidak dapat dicerna usus besar. Akibatnya terjadi penurunan kadar keasaman usus besar yang dapat mencegah risiko terjadinya kanker.

Bahkan, mengasup buah dan sayur juga salah satu upaya anti-aging. Vitamin A, C, E dan mineral selenium yang terkandung di dalamnya bersifat antioksidan, mencegah radikal bebas perusak sel-sel tubuh.

Seperti yang telah kita lihat bersama, banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menelaah manfaat sayur dan buah untuk tubuh. Ternyata, peran mereka lebih besar dari sekedar menjaga saluran cerna. Kalau sudah begini, tidak ada alasan lagi bagi Anda untuk menghindari makanan berserat. Mulailah dari yang sederhana, mulailah dari meja makan Anda.